Kecelakaan tragis yang menimpa Raisha Anindra Pascasiswi dan putrinya, Sheyna Lashira, dalam kejadian di Chinatown, Singapura, memberikan duka mendalam bagi mereka yang mengenal mereka. Hingga saat ini, Raisha masih berada dalam perawatan intensif setelah mengalami cedera serius, sementara Sheyna yang berusia enam tahun telah dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa ini menciptakan kepedihan yang mendalam, terutama bagi keluarga dan teman-teman Raisha. Dukungan dari masyarakat mulai mengalir dengan penggalangan dana yang diinisiasi oleh rekan-rekannya, demi meringankan beban biaya perawatan medis yang terus meningkat.
Penggalangan Dana untuk Bantuan Medis Raisha
Penggalangan dana ini diumumkan melalui media sosial, khususnya Instagram, dan telah mendapatkan perhatian luas. Lebih dari 8.500 orang telah membagikan informasi ini, menunjukkan solidaritas yang kuat terhadap Raisha dan keluarganya.
Donasi tersebut akan disalurkan melalui rekening suami Raisha, Ashar Ardianto, untuk membantu menutupi biaya perawatan medis yang diperlukan. Keduanya adalah lulusan Universitas Indonesia, dan teman-teman dekat mereka merasa terpanggil untuk memberikan dukungan dalam situasi sulit ini.
Di media sosial, sebuah pernyataan emosional dibagikan, menyampaikan belasungkawa atas kehilangan Sheyna dan meminta do’a untuk kesembuhan Raisha. Dukungan dari berbagai kalangan menunjukkan betapa komunitas sekitarnya sangat peduli dengan situasi yang mereka hadapi.
Kondisi Raisha dan Tindakan KBRI Singapura
Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Singapura mengonfirmasi bahwa Raisha telah sadar dan dalam kondisi stabil. Meskipun begitu, ia masih memerlukan perawatan intensif untuk pemulihan lebih lanjut.
Pihak KBRI juga melakukan koordinasi dengan keluarga Raisha untuk memberikan bantuan yang diperlukan, termasuk kemungkinan adanya pendampingan hukum jika dibutuhkan. Ini menunjukkan kepedulian dari pemerintah Indonesia dalam mendukung warganya di luar negeri.
Rencana pemindahan Raisha ke Indonesia untuk perawatan lanjutan telah dipertimbangkan, namun dokter menyarankan agar proses tersebut ditunda. Kondisi medis Raisha saat ini belum memungkinkan untuk melakukan evakuasi.
Tragisnya Kehilangan Sheyna dan Dampaknya pada Keluarga
Kecelakaan yang terjadi pada 6 Februari 2026 tak hanya menghilangkan nyawa Sheyna, namun juga meninggalkan bekas luka mendalam bagi orang-orang terdekatnya. Rara Anindita Swargastha, kakak Raisha, menyampaikan betapa beratnya melewati hari-hari setelah kehilangan tersebut.
Rara mengaku mendapat kabar duka saat sedang bekerja, dan reaksinya spontan. “Saya langsung syok dan histeris,” ungkapnya saat mengenang momen tersebut. Kejadian itu tentu memengaruhi kesehatan mental dan emosional Rara serta keluarga lainnya.
Pulangnya jenazah Sheyna ke Indonesia dan proses pemakamannya di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, merupakan momen yang penuh air mata bagi keluarga. Menghadapi kenyataan kehilangan ini bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi Rara yang sangat dekat dengan keponakannya.
Kenangan Indah Bersama Sheyna dan Harapan ke Depan
Sheyna dikenal sebagai anak yang ceria, penuh perhatian, dan sangat disayangi oleh semua orang di sekitarnya. Rara menggambarkan keponakannya sebagai pribadi yang aktif dengan kebiasaan mengenakan baju berwarna cerah, terutama pink dan kuning yang mencolok.
Setiap kenangan bersama Sheyna menyisakan rasa rindu dan kesedihan mendalam. Rara mengingat betapa dia sering mengajak Sheyna untuk berolahraga pagi dan bermain tenis. Momen-momen kecil ini kini menjadi kenangan yang berharga.
Walaupun peristiwa tragis ini telah mengubah hidup mereka, keluarga berharap agar kasih sayang dan kenangan indah bersama Sheyna akan terus hidup di dalam hati mereka. Solidaritas masyarakat dan dukungan dari teman-teman Raisha menjadi harapan baru dalam menghadapi masa sulit ini.
